Rasanya saya ingin bikin beliau nggak khawatir. Saya juga nggak pernah merasa sendirian lagi.“Uohhh… buang di dalem boleh gak Neng?” tanya supir yang di depan saya.Saya ngangguk. Kerja sana. Saya anak semata wayang, sekelüarga petani penggarap yang tak berpünya. Di bawah, di depan toko mulai ramai. Juragan kelihatan senang.“Hah… uh… Ayo terus Denok… aku senang ndengar suaramu kalau dientot… mbikin tambah nafsu. Denok, kalau kamu mau kupegang, kutambah dua puluh ribu, ya…”Kedua tangan saya dipegang Juragan, lalu pelan-pelan diletakkan di samping badan saya. Duh, edan tenan. Saya nggak peduli… yang saya pikir cuma kerja seperti ini lebih gampang dapat uang. Aduuuu!!”Juragan mendengus dan menggerung. Sebulan-dua bulan sesudah Juragan ngambil kegadisan saya, saya jadi makin berpengalaman sebagai lonte. Tapi sekarang, di antara semua pelanggan




















