Di sebelah kanan di bawah kerimbunan pohon aku melihat semacam warung makan. Kami ngobrol ngalor-ngidul gak jelas. Lubang kemaluan Amei cukup menggigit juga. Kuakui makanan di warung Mbak Ambar memang lumayan enak. Pak Mertino bersemangat menceritakan bahwa tempat itu banyak ibu-ibu yang lumayan, dan harganya tidak terlalu mahal. Aku berusaha menyesuaikan sikap sehingga tidak kelihatan sebagai orang asing di wilayah itu. Hanya berbicara menjawab pertanyaanku. “ Gimana mas ada yang cocok,” tanyanya.Terus terang aku bingung juga harus memilih yang mana. Dia rupanya sudah mengenaliku. Pak Mertino kolegaku punya chemistry yang sama denganku. Berjalan sekitar 30 m ada gang yang tidak terlalu besar. Aku diperlakukan begitu tidak mampu bertahan lama dan jebollah pertahananku.Amei paham aku telah memuntahkan spermaku di dalam rahimnya.




















