Wah, ternyata lumayan juga, masih padat dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Ketika sampai di restorant tersebut, aku langsung pergi ke WC dulu karena aku sudah kebelet. Aku mulai berpikir jangan-jangan Dini lebih menyukaiku. Apa bisa aku menyentuhnya nanti, tetapi langsung aku berpikir tentang pamanku, bagaimana kalau nanti ketahuan, pasti tidak enak dgn pamanku. Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Dini memang enak untuk diajak ngobrol. Begitu sampai di lantai tersebut, aku pun langsung melihatnya sedang membuka pintu ruanganya. Lumayan dekat dari tempat kerjaku di Roxymas. “Napsu makan dong, gua kan belum sempat makan siang!”Aku sempat emosi juga rasanya, sepertinya ia tidak tahu aku ini orang yang sangat menghargai waktu, terutama jam makan siang, soalnya aku sambil makan dapat sekaligus main internet di tempat kerjaku,




















