Bu Chintya yang tampaknya sudah sangat pasrah itu akhirnya menyangga kepalaku dengan tangan kanannya. Bagian ini tampaknya bagian yang paling disukainya, lidahnya yang lembut bermain dengan putingku, sambil kedua tangannya mimijit-mijit bagian samping dadaku. Sangat hangat dan rapat, bahkan jika batang kesayanganku itu bisa membauinya, kukira dia pun akan terkesima dengan aroma wanginya. Bahasa tubuhnya seolah memberiku ijin untuk beranjak ke bagian itu. Merasa sudah menguasai keadaan, aku mulai memainkan ritme permainan. Seolah telah mendapat ijin, akupun melayangkan serangan-serangan yang lebih berani. Mati gaya banget lah “Heh, mau sampe kapan berdiri disitu?” Bu Chintya segera berseru dengan tanggap.Sepertinya beliau tahu kalau aku berdiri disitu dengan canggung.




















