Sisi luar buah dada dan kemulusan sela-sela lengannya berulang membuat Anku bernafas dengan berat. Terjawab sudah teka-teki yang tadi menghantui Tante Cesty, mungkin jawaban ini sudah saatnya tiba.Perasaan yang baru pertama kali ini Tante rasakan terus berkembang ke arah yang tidak dapat ia terka, sampai keadaan ini mengembalikan ingatan Tante Cesty kepada keresahan yang melanda setelah kelahiran anak semata wayangnya. Rebahan di atas kasur berbulu angsa yang lembut belum dapat menenangkan gemuruh hatinya, mendinginkan hawa disekitar leher dan kuping juga meredakan irama nafas yang bergemuruh. Pada saat bersamaan Tante Cesty masih memejamkan matanya tidak untuk tidur akan tetapi menenangkan kegelisahan hatinya, baru saja Tante merasakan keredaan ini, mata beningnya terlepas dari pejaman yang lama, menyaksikan sosok Anku dengan bertelanjang dada dan kaki yang




















