Hehehe…Dengan senyum kemenangan, didik lalu menarik kedua tangan Meli dan merebahkan tubuh gadis amoy ini keranjang. Bokeb “Ups. Kedua “calon pelanggannya” menunggunya dengan gelisah.Setelah selesai, Meli cuman berdiri saja memandang mereka. Didik lalu duduk disebelah Meiling. Sebuah kalimat sederhana dari Didik, namun membuat Meli mati kutu. Aku langsung mengerti.“Gini aja. Rahmat, sampeyan dhisik. Entar kapan-kapan saya pelan2 deh.”, goda Didik lagi, disambut tawa Abdul dan yang ternyata ada dibelakang mereka. Soleh dan Didik cuman tertawa lebar mendengarnya. Meli hanya mengerutkan dahi, menahan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya. “Nah, kamu kayak kakak kamu apa nggak?”, ujar Didik lagi, sekarang nadanya lebih lembut. Tidak hanya dia, tetapi semua orang menatapnya dengan tidak percaya.




















