Apa nanti… Belum selesai Aku bicara, Okta segera memotongku. Terus Arman… Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. Ya, Arman?, tanyanya dengan mata memohon. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. dan saat aku bengongn, Okta menegurku “Eeehhh…Mask ok bengong ngliat apa??”. “Iyha mas, kamu udah sampai ya??” tanya Okta balik. geli sekali. Aku balas menatapnya. Aku dalam posisi duduk, sementara Okta sudah telentang. Okta tertawa. ahh.., desahnya terus, tanpa henti. Namun, ternyata Okta tidak berhenti begitu saja. Oh, geli sekali rasanya. Arman, tolong hisap klitorisku, yah?, pinta Okta. Jika aku sedang longgar tidak ada kerjaan, kebiasaanku muncul kembali, aku sering tertawa sendiri dikantor hingga aku dikatakan yang tidak-tidak oleh temanku.




















