Namun dia tak sendiri. Aku ingin mengangkatnya, namun Lidya malah menekan dan terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Bokep Montok Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yg kini sudan polos.“Ayo dong, jangan diam saja..”, bisik Lidya disela-sela tarikan napasnya yg memburu. Tak ada yg istimewa. Perhatiannya padaku malah semakin bertambah besar saja. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dgn hati dipenuhi kebanggaan aku meminjaminya. “Aku.., Apa yg harus kulakukan?” tanyaku tak mengerti. Bahkan Mbak Indira menjanjikan macam-macam agar aku tak terus menangis. Namun aku hanya diam saja, tak tahu apa yg harus kulakukan. Sesaat aku tersentak kaget, tak menygka kalo Lidya akan seberani itu.




















