Aku bergegas ke pintu kamar ingin segera keluar dari sana. Setahuku dia adalah mahasiswi Fakultas Sastra, entah sastra Jepang atau Inggris aku tidak ingat. Ya ampuun, cantik sekali dia. “Aauuhh.. Tapi mengapa aku begitu jual mahal. Kamu memang cinta sejatiku.”Esok harinya kami selalu pergi kuliah bersama dan selalu memuaskan birahi kami di rumahnya.–,,,,,,,,,,,,,,,, Tanpa disuruh lagi dia segera mengulum batangku, dua tanganku menjambak rambutnya supaya kepalanya tetap diam. Rumahku letaknya 3 blok dari rumahmu, bisa kan mengantarku?” Bagaimana dia tahu rumahku, pikirku. Bisa-bisanya dia bicara begitu, dasar rayuan gombal. Saat itu aku membiarkannya meminjam buku itu dulu.Sekarang dia ada di depanku di tempat parkir saat aku hendak menyalakan motorku untuk pulang.




















