Aku berteriak histeris. Inilah yang kuimpikan sejak dulu, disiksa dan direndahkan oleh wanita.Setelah puas dengan cambukan, dia melepas ikatan tanganku. Aku benar-benar berteriak histeris. Dada, perut dan paha tidak luput dari tetesan cairan lilin panas. Tidak hanya sampai di situ saja siksaan yang kualami. Tubuhku penuh dengan keringat karena sinar matahari yang amat panas.Setelah puas mencambukku, Nyonya Hana meninggalkanku begitu saja dijemur di bawah terik matahari yang menyengat. Seperti yang kuduga, Nyonya Hana meraih putingku dan menjepitkan jepitan buaya itu hingga daging kedua putingku terjepit erat. Tubuhku yang kotor dan bugil dibakar sinar matahari sepanjang siang itu.




















