Jari-jarinya mencengkam seprei seakan mencari pegangan, namun ia telah mengapung seperti kapas kering tanpa sandaran sama sekali. Ia memandangku dan tersenyum manis sambil membelai-belai wajahku. Aku berdiri di depan cermin memandang tubuhku yang telanjang bulat. “Masukkan sekarang juga! Kugeserkan kemaluanku yang tegak itu ke pahanya yang putih, besar, halus dan merangsang. Cepat aku bergerak menerkamnya. Hawanya cukup sejuk, mendung dan kelihatannya akan hujan. Mulut kami bertemu dan bibir saling mengulum dgn penuh gairah. Kami sama sekali tidak memperhatikan kalau Ibu Lina melihat segalanya dari balik kaca pintu. Dibelainya wajahku dan dikecupnya bibirku. Anggur? Jadinya, komisi itu wajib hukumnya.” Ia tersenyum nakal. Kurasakan tubuhnya menggeletarkan nafsu birahi yang semakin tinggi. Dari balik kaca jendela kamarku, kulihat sesosok wanita turun.




















