Setiap kali konfrensi pers Tari bersikap biasa, seolah tidak pernah ada apa-apa di antara kami. Aktivitasnya berkurang. Tapi aku masih bersabar.Aku menciumi ketiaknya yang bersih dan licin, yang sepertinya belum pernah ditumbuhi bulu itu, sambil memainkan puting dan payudaranya. Tari sudah membungkuk di mukaku, dengan jatuhan kain kimono di wajahku, dan rambutnya menutupi kepala dan wajahku. Kamu tidur di sofa, aku di bed. Begitu juga dalam trip selanjutya, hingga kami kembali ke Jakarta. “Auhh..”, desahnya. Video hotel memutar film hot, soft porn.Tari menyingkirkan selimutku. Aneh juga, amoy putih kok putingnya gelap. Dia merintih dan melenguh. “Sebentar deh ke kamarku. Dibuatnya maniku bocor sedikit-sedikit. Kurasakan bulu yang tebal.




















