saya waktu itu benar2 khilaf kataku lagi. Supaya Mas Hendra tak curiga pada orang yang ku tabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Setelah itu kami keluar dari restoran itu dan menuju kemobil.Dalam mobiku itu, aku terdiam dan bingung akan kejadian barusan, otakku tidak berjalan sebagai mana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku dan ia dengan bebasnya meraih dan meremas tanganku. saat itu aku sebelumnya hanya berpakaian kantor. Beberapa saat kami menikmati suasana yang tak aku hendaki itu terjadi. Mas Hendra ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan dan ingin tetap menikmati kehidupan berdua dulu tanpa di ganggu anak dulu.




















