Uang kita bagai setumpuk kertas gurauan dengan angka nol berderet-deret.Pukul 2 lewat. Tinggi 168 cm, berat proporsional dan sebuah fitnes center dengan rajinnya memahat tubuhnya beberapa kali dalam seminggu.Setelah sampai di dekatku, aku memutar kursiku hingga menghadap ke samping. Aku duduk. Dan sekarang kejadian lagi. Aku merasa sudah tidak tahan lagi. Tidak juga. Jam 6 pagi aku meninggalkan rumahnya. Dan kami pernah membicarakan hal itu.Jam 15.00 ditelan kesibukanku, aku telah melupakan Felly. Di Carport. Itu saja. Yang ada di otakku adalah bagaimana caranya membujuk Felly untuk mau menemaniku di tempat tidur nanti malam. Aku merutuki diriku sendiri. “Pak Ricky, telepon dari Felly,” Indri, sekretarisku di interkom.




















