Tak lama kemudian spermaku keluar, aku jinjit dan mengarahkan kepala Rini ke atas, kupijit-pijit dagu dan lehernya agar semua spermaku ditelannya.Rini terbatuk-batuk dan tubuhnya lemas, aku berusaha menciumnnya namun kedua tangannya menghalngiku. “Be… belum,” balasku gugup, sekaligus bingung dengan arti pertanyaannya. “Eeei,” teriak Rini ketakutan, “Apa-apaan kamu? Rini berteriak namun tidak jelas terdengar apa bunyinya, aku memainkan pahanya. “Udah masukin ah….,” katanya sambil tersenyum. “Rini? Terus terang aku masih ragu-ragu sih dalam memanage waktuku, biarlah besok-besok aku ingin berkonsultasi dengannya.3 hari kemudian aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan Rini. “Kamu bisa berdiri?” kataku lagi sambil mencoba berdiri dalam posisi tengkurep.Mata dan hidungku menyentuh celana dalam, pantat dan paha Rini, gesekan-gesekan itu membuat Rini mendesah sambil tertawa dan menangis.Kepalaku akhirnya bisa keluar juga, pantatnya nongol




















