Seiring dengan goyangan tubuhnya, Indah mendesah-desah,
“Ssh.. Bokep Montok “Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya. Tapi kali ini aku ingin bereksperimen. Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Indah agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. “Mbak sudah benar, kalau Mbak bangun dan membantuku, bisa-bisa tambah kacau”, kataku sambil memikirkan pekerjaan yg akan kuhadapi besok. “Terus yg mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yg ke berapa?”, tanyaku halus. Beberapa saat kemudian tubuh Indah bergetar seiring dengan klimkaksnya. Caramu berbicara dengan wanita asal saja tanpa pernah kamu pikirkan akibatnya. “Hmm.. “Tampangnya sih oke tapi pria seperti itu hanya mau menangnya sendiri seperti bekas suamiku yg pertama”, sambungnya.




















