Tatapan si Diah ini begitu liar dan menantang. Aku mengarahkan ciuman aku ke pipinya, lagi-lagi dia cuma diam. Dengan cepat otak dan mata aku bekerja.Kemudian aku melambaikan tangan aku ke seorang perempuan yg bernama Dian. Biasanya aku memberikan ramalan yg jitu dulu baru bertanya hal tersebut, jadinya mereka telah percaya dengan aku. Asyiknya aku gampang sekali jatuh cinta (hahaha…).“Ayo… teman-teman, ikut aing… aing udah booking kamar yg cukup untuk 20 orang,” seru si Peter.Terpaksa deh aku mengalihkan perhatian aku dari belasan wanita di cafetaria tersebut. Ketika Peter sedang membayar, Diah berjalan ke kamar mandi.Di kamar mandi yg berukuran 1.5 x 1.5 m ini sekarang penuh terisi 4 orang. Di ruangan pertama terdapat cafetaria atau semacam restoran.




















