Saat itu aku hanya mengangguk dan pasrah saja karena aku lemas sekali. Tanpa basa-basi Arif segera menciumku sambil tanganya meremas buah dadaku,
“ Eummmmm… Eughhhh… Sssshhhh…, ” desahku sembari memejamkan mata. Yang terlintas difikiran saat itu adalah nafsu semata. VAginaku yang selalu aku cukur bulu kemaluannya bertemu dengan penis Arif yang sudah tegang dengan bulu kemaluanya yang sangat lebat. Sebagai seorang Office boy menurutku dia terlalu ganteng dan berkharisma, entah mengapa sejak dia bekerja jika melihat dia jantungku selalu berdetak kencang. “ Sekali lagi maafkan saya ya Buk, saya janji tidak akan mengulangi kelakuan bodoh ini lagi, ” ucapnya masih dengan wajah ketakutan dan masih mengelap sepatuku. Ketika aku akan melangkah untuk agar kakiku tidak terkena pecahan gelas, tiba-tiba keseimbanganku hilang.




















