Hmm.., tambah harum jika dicium tanpa penghalang seperti ini.“Pelan-pelan, yaa..” bisik Surti sambil menggelinjang, “Nanti kamu tersedak”.Bari menjulurkan lidahnya, menelusuri lembah di antara dua payudara istrinya. Seperti biasa, Surti manja merebahkan kepalanya di dada Bari yang bidang, memeluk erat lengannya, dan menopangkan satu kaki di atas pangkuan lelaki itu. Ia menahan nafas, melihat tubuh istrinya melintas bagai film slow motion, menerawangkan kemulusan yang tak tertutup oleh pakaian dalam. Samar-samar ia bisa melihat puting susunya yang kini menjadi satu-satunya penyangga sehingga daster itu tidak merosot terus untuk menampakkan seluruh bola putih mulus. pikir Surti sambil menatap suaminya lekat-lekat. Kursi berderit-derit ramai, dan Bari menekan tubuh istrinya kuat-kuat agar mereka berdua tidak terlempar ke lantai.




















