Arini menyambut kami, kami mengobrol sebentar. Cukup lumayan juga. Kami sempat rapat sebentar dengan Bupati dan segenap Muspida untuk persiapan acara ini. Tapi, si Arini yang menawarkan. Mobil berhenti di sebuah bangunan yang bagian depannya terdapat warung kopi. Aku lalu menancapkan penisku yang sudah 75 persen mengeras.Aku genjot Arini dengan posisi Man On Top. Gita terdiam pasrah, seperti orang pingsan. “ Pak mari turun, ini rumah saya,” katanya. Lumayan lega juga di dalam. Ia mengambilkan piring, lalu menyendokkan nasi, mengambilkan lauknya lalu menyerahkan ke aku. “ Itu pak anak-anaknya, bapak-bapak tinggal pilih saja yang mana itu ada 8 orang yang bisa siap malam ini nginap.










