Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan memperhatikan tubuh istriku.Aku rasa, Sherly mulai akan menangis. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya berubah menjadi lebih kejam tiga kali lipat.Sambil mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawa oleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Sherly yang menutupi buah dadanya. Si Kumis masih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Setelah itu sambil menggelengkan kepalanya, ia mengatakan sesuatu kepada si Kumis.Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Sherly. Teriakanku disambut dengan tamparan keras pada pipi kananku. Pada saat aku melepaskan kemejaku, Sherly masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya.




















