Dan nggak di semua tempat kami bisa mendapat penonton yang bersedia membayar, kadang-kadang kami malah diusir atau dihardik. Saya kalungkan selendang saya ke salah seorang, saya beri senyum manis dan saya bisikkan harga saya kalau dia mau.“Bener nih, segitu?” kata si supir yang bertubuh kerempeng, berambut cepak, dan mulutnya bau minuman.“Iya Bang… tapi buat satu orang aja ya… kalau yang lain mau ikutan, nambah.”“Hehehe,” katanya sambil menjamah kemben saya.“Mau dong nyobain,” dia remas tetek saya.Dari semua orang yang ada di sana, cuma dia dan satu orang temannya yang ‘nanggap’ saya. Saya luluh akibat gempuran-gempuran Juragan. Sanggul yang belum saya copot (apa seharusnya saya copot juga?) ngganjal belakang kepala saya.




















