Mungkin bila nanti sudah lulus dan jadi sarjana aku bisa keluar dan lingkugan rumah dan bekerja di kota lain. Sakit ya Pak?. Aku larikan motorku keluar kota dan memarkirnya di tambak yang sepi. kamu sendiri kenapa kemari? Sesudah itu ibu diboyong ke rumah Pak Herman , dan rumah kami, kios dan segala isinya menjadi tanggung jawabku. Hanya perasaan takut dan takut yang terus mendesak naluriku.Sebelum aku mampu mengambil keputusan apa yang akan kulakukan, Pak Herman sudah maju dan mendekap tubuhku. Di kamar mandi aku menangis sendiri, menggosok seluruh tubuhku dengan sabun berkalikali. Padahal aku tidak ke rumah siapasiapa. Perlahanlahan ia bangkit dan melepaskan seluruh pakaianku. Hatinya bakal hancur dan jiwanya tercabikcabik.




















