“Oo.. Mangnya gak tau kerjaan suami sebelum nikah”. Rumahnya besar ya mas”. “Mas.. Dia kunaiki dan segera mengarahkan kontolku ke memekknya. Tembok tinggi menghalangi pandangan orang luar yang mau mengintip ke dalam. “Maksud kamu”. Jariku kembali menyeruak masuk ke dalam memekknya, dia benar-benar hampir pingsan.Tubuhnya kembali terguncang hebat, kakinya jadi lemas semua, otot-otot perutnya jadi kejang dan akhirnya dia si jablay nyampe, cairan memekknya yang banjir kutampung dengan mulut dan tanpa sedikit pun merasa jijik kutelan semuanya. “Namanya siapa sih”.“Aku Sintia, bapak?” “aku menyebutkan namanku, jangan panggil bapak lah, formal amat”. Tengah pembicaraan mulai mencair, datanglah seorang prempuan, rupanya ini tetangganya, mo jemput anaknya. “udah gak tahan ya mas”, godanya sambil membiarkan tanganku mengelus2 pahanya.




















