Kubolak-balik halaman-halaman surat kabar. Jangan!” Aku memberontak-berontak sebisa-bisanya. Aku masuk ke dalam rumah, ke kamarku. Jangan malu-malu, don’t be shy!” kata Adolf sembari memberiku sebuah album foto. Batang kemaluan Adolf akhirnya menghujam seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku. Kuambil surat kabar itu. Pasti mereka juga adalah pelamar sepertiku. Ya ampun, ternyata ia adalah cewek Indo yang tadi duduk di sampingku di ruang tunggu. Dan akhirnya, aku merasa tak kuat lagi. “Pakai baju apa ya enaknya?” batinku. Di dalam sudah banyak cewek-cewek cantik. Melihat tubuh mulusku yang sudah tergeletak pasrah di depannya, nafas Adolf memburu bagai dikejar setan. Aku meronta-ronta. Seumur hidupku, belum pernah aku diperlakukan sedemikian lupa oleh lelaki manapun, dan kini aku harus menyerahkan diriku pada Adolf.Adolf mencoba mendorong batang kemaluannya masuk ke




















