Kemaluanku yang sudah melemah masih berada di dalam liang kewanitaannya. “Tapi apa Mas..” “Tapi harus ada gantinya, barter gitulah.” “Tapi kalau yang ini aku nggak punya”, sambil ujung jarinya menunjukkan kemaluan pada gambar yang ia pegang. “Mau lihat, nggak apa-apa kok untuk pelajaran aja.” Dengan ragu-ragu ia terima juga foto-foto kategori Mesum, dan dilihatnya dengan cermat, entah apa yang berkecamuk di dalam hatinya aku tidak tahu, tapi terlihat ekspresinya begitu tenang sekali. Aku tidak bisa bilang apa-apa, selain menikmatinya dengan perasaan senang. Beberapa detik kemudian kami terkulai. Tetapi kulihat seseorang memasuki halaman dan aku segera menguakkan korden agar lebih jelas siapa yang memasuki halaman itu.




















