Dan aku tidak pergi ke warung. Satu persatu, pakaianku mulai dibukanya. Namun Nia tampak seperti yang ketakutan. Aku berganti posisi di atasnya, seperti yang biasa kulakukan dengan wanita-wanita lain. Sampai beberapa saat kemudian, aku mulai akan mencapai puncaknya. Walau hanya dengan isarat, aku pun bisa mengerti. Tapi aku tak tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh, sebab aku sudah tak tahan lagi untuk memulainya. Sehingga dengan mudah, dia memapah penisku untuk langsung dimasukan ke dalam vaginanya yang telah basah. Sampai akhirnya dia menggulingkan tubuhnya. Tapi Nia hanya menggelengkan kepala. Kuhampiri Nia, sekaligus pula kupeluk tubuhnya. Dia berterimakasih banyak kepadaku. Untung sekali dia tak berani berteriak.




















